Get Lost is Good for Our Soul (Bagian 1)
Oleh : Cika Friska Ciko
Entahlah, merupakan kata pertama yang keluar dari pikiran saya. Awalnya Nyai, partner pejalan saya, ingin sekali mengunjungi Nusa Penida, Bali dan Taman Nasional Baluran (TNB). Segala persiapan dan survey pun telah dilakukan, namun rencana yang terlalu matang itu pun mendadak berubah. Tanggung jawab akan pekerjaan membuat Nyai tidak bisa berlama-lama melakukan perjalanan. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk ke Pulau Menjangan yang masih berada dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dan diakhiri dengan mengeksplor TNB.
Waktu itu entah keberanian dari mana saya menghubungi TNB, dan terhubunglah saya dengan salah satu stafnya yang bernama mas Joko, lalu sebuah kamar untuk kami menginap di pantai Bama pun dipesan. Karena merasa tidak paham mengenai Pulau Menjangan, kembali saya menghubungi mas Joko untuk meminta informasi mengenai pulau tersebut, dalam pikiran saya, semoga dihubungkan dengan staf TNBB toh sesama staf taman nasional pasti saling mengenal. Dan benar saja, saya mendapat nomor telepon pak Reza, staf TNBB. Karena sangat asing dan terkesan aneh, maka pertanyaan-pertanyaan dari pak Reza pun terdengar sedikit menginterogasi, hingga akhirnya saya dihubungkan dengan pak Ngurah, “seseorang di Pulau Menjangan”. Tanpa basa-basi saya pun menghubungi beliau, dan tampaknya sama terkejutnya dengan pak Reza. Dari pak Ngurah, saya mendapatkan banyak informasi mengenai penyeberangan dengan Ferry dari Ketapang ke Gilimanuk yang ternyata selalu ada di setiap jamnya hingga harga sewa boat dan peralatan selama di Pulau Menjangan.
Hari yang dinanti pun tiba, Jumat, 09 September 2011, saya berangkat menuju Terminal Giwangan menggunakan jasa ojek motor untuk mempersingkat waktu, ternyata si Bapak Ojek belum pernah ke sana, hmmm…. Sesampainya di sana, ternyata Nyai telah menunggu di ruang tunggu penumpang bis tujuan Surabaya/Banyuwangi, dan saking jarangnya saya ke sana, hampir saja saya tersesat di dalam Terminal Giwangan. Berdasarkan cerita Nyai, ia ditawari beberapa bis dengan harga bervariasi, dan semuanya tujuan Bali. Karena pernah trauma dengan Calo, ia pun tak segan minta diantar kepada agen bis dan dengan sedikit galak berkata: “Awas ya kalau saya dihubungkan pada Calo!”, si Penjaga agen bis pun hanya bisa diam, menurut Nyai istilahnya “mengancam sebelum diancam”. Benar-benar preman Banjar….
Akhirnya kami berangkat dengan bis ekonomi AC tujuan Banyuwangi, Akas Asri dengan membayar Rp 85.000,00. Dibanding dengan bis kelas bisnis seharga Rp 250.000,00 tujuan Bali, turun di Banyuwangi lalu menggunakan angkutan umum dengan ongkos Rp 10.000,00 dilanjutkan menyeberang dengan Ferry dengan tiket seharga Rp 6.000,00 terasa lebih hemat apabila hanya turun di Gilimanuk. Di dalam Akas Asri, karena pak Jokolah kami mendapat tempat duduk terdepan di belakang supir, lumayan, setidaknya bisa melihat situasi jalan, meskipun kaki kami bengkak karena sempitnya jarak antar tempat duduk. Lucunya, saat berhenti di terminal Solo, pak Joko tertinggal, malangnya nasibmu pak Joko…. Tapi, pak Joko itu siapa ya? Entahlah, yang jelas beliau baik kepada kami! Bangganya lewat Sragen! Ya, banyak sekali kenangan kami berdua semasa masih belajar dulu, hampir satu tahun kami tinggal di kota itu, dan seperti biasa, mulailah kami mengoceh tentang tentang keseharian dulu di sana, masa-masa menyenangkan….
Awalnya saya pikir bis ini akan melewati Situbondo, tapi setelah melihat ulang karcis bis, ternyata melalui jalur selatan, yaitu Jember dan Banyuwangi bagian selatan, wah! Rute impian saya, senangnya…. Kebiasaan sok kenal sok dekat (SKSD) yang biasa kami lakukan membuat kami lebih dikenal awak bus dan sesampainya di terminal Banyuwangi kami dibantu menawar ongkos angkutan umum menuju Pelabuhan Ketapang, terima kasih bapak-bapak.
Tepat waktu sekali, saat tiba di Pelabuhan Ketapang adalah saat keberangkatan KMP Nusa Makmur, selama 15 menit penyeberangan kami berkenalan dengan ibu Supri asal Banyuwangi sang pedagang Jagung yang tampaknya cukup berhasil dan bangga dengan anaknya yang sekarang menjadi pengajar Universitas Negeri kenamaan di Surabaya dan mas-mas seorang pedagang buah tangan yang cukup ‘narsis’. Sesampainya di Gilimanuk kami harus menunjukkan tanda pengenal, mungkin sebagai antisipasi setelah kejadian Bom Bali beberapa waktu silam.
Di dalam terminal Gilimanuk, langsung kami naik bis tujuan Singaraja, kami duduk di depan dan berkenalanlah kami dengan pak Komang B, seorang yang ceplas-ceplos dan ceria, dengan diiringi lagu-lagu Bang Haji Rhoma Irama, si Supir ini ‘gaul abis!’, begitu kami menyebutnya. Membayar Rp 10.000,00 untuk kami berdua, sampailah kami ke Labuhan Lalang, tempat kami menyeberang ke Pulau Menjangan.
Lokasi Pulau Menjangan berada di sebelah utara Taman Nasional Bali barat. Untuk mencapai Pulau kami harus naik perahu bermotor (boat) sekitar 30 menit dari Labuhan lalang. Sesuai dengan namanya pulau ini dahulu terkenal dengan menjangannya (Cervus Timorensis). Keadaan air laut Pulau Menjangan yang relatif tenang merupakan area selam yang baik dan merupakan salah satu taman laut yang terlengkap di Bali.
Lalu bertemulah kami dengan pak Ngurah, yang ternyata salah seorang staf TNBB. Dari beliau banyak sekali kami dapatkan keterangan mengenai ekosistem bawah laut, karena bukan bidang saya dan saya tidak membawa buku catatan, yang saya ingat hanyalah tentang pemutihan karang oleh hama yang entah apa namanya sehingga karang-karang tersebut mati. Menurut pak Ngurah terdapat 9 spot snorkeling/diving di Pulau Menjangan, namun berhubung waktu kami sangat singkat dan ombak cukup besar, kami hanya mengunjungi dua spot saja.
Spot yang pertama merupakan spot terbaik dilihat dari keanekaragaman ikan dan terumbu karangnya. Bila dibandingkan dengan spot snorkeling yang pernah kami coba, di spot ini terumbu karang hampir sama, hanya saja ikan lebih beragam dan ukuran lebih besar dengan kedalaman laut yang jauh lebih dalam pula. Meskipun hanya sebentar tapi cukup puas, sayangnya rasa penasaran akan ketujuh spot yang lain tidak bisa hilang dari pikiran saya.
Kalau dipikir-pikir di Pulau Menjangan pengunjung terbanyak berasal dari luar negeri, terbanyak Eropa, bisa dikatakan level internasional! Sedangkan pengunjung domestik hanya beberapa saja dan terbanyak karena keperluan penugasan/pendidikan. Sangat disayangkan…. Sebenarnya malu juga, waktu kami ke sana hampir semua bule, sedangkan kami orang lokal hanya berdua saja, dengan kostum tertutup rapat -berjilbab- dan berpelampung. Ya, kami tampak sebagai pemandangan yang seolah tak lazim bagi mereka. Namun ya sudahlah, karena ini negeri milik kami, jadi kenapa harus merasa tidak enak? Ada satu kebodohan yang benar-benar bodoh! Batere kamera saya habis! Dan baru terlintas charger batere ada di Jogja! Bodohnya saya….
Setelah membersihkan diri dan makan di warung muslim milik orang Banyuwangi, kami menyelesaikan urusan dengan pak Ngurah lalu membeli beberapa benda ‘bertanda’ TNBB dan kemudian bergegas untuk kembali ke pulau Jawa. Beberapa saat menunggu, akhirnya bus ke arah Gilimanuk pun datang dan mengangkut kami. Sesampainya di Gilimanuk, kami langsung menuju Pelabuhan dan menyeberang dengan harga tiket yang sama. Di atas kapal kami bertemu dengan pak Umar, seorang Bali muslim yang ternyata bekas supir bis kenamaan yang mengangkut penumpang dari Jawa ke Bali atau sebaliknya. Dunia memang sempit rupanya, putri pak Umar adalah alumni dari almamater yang sama dengan saya dan Nyai. Banyak informasi mengenai angkutan menuju ke Jogja maupun Ciamis yang kami dapat dari beliau. Kali ini penyeberangan terasa agak lama, entah mengapa kapal tidak segera berlabuh. Seperti perkiraan sebelumnya, kami pasti kemalaman sampai di Baluran.
Setelah kapal berlabuh, Stasiun Ketapang adalah tujuan pertama kami, tidak ada kereta Bisnis maupun Eksekutif yang langsung menuju Bandung (melewati Ciamis), hanya ada kereta Ekonomi menuju Jogjakarta yang berangkat pukul 06.00, dan untuk menuju Bandung harus berganti kereta di Stasiun Gubeng, Surabaya. Sempat terjadi konflik kecil di antara kami berdua, mengenai kereta yang berangkat pagi dengan di mana kami menginap sehubungan dengan penginapan yang telah kami pesan di pantai Bama, Baluran. Dengan menggunakan becak kami menuju terminal Ketapang. Masih berkutat dengan konflik yang sama, ditambah dengan bis yang sepertinya masih lama, rasa lelah semakin menjadi-jadi saja, apalagi masih teringat akan penginapan Bama yang untuk mencapainya saja perlu perjuangan keras, apalagi malam hari, padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 18 lewat. Akhirnya Nyai memutuskan mengikuti saya menginap di Baluran, saya ke Bama, sedangkan Nyai di pos depan.