Get Lost is Good for Our Soul (Bagian 2)
Oleh : Cika Friska Ciko
Baluran! Di pos penjaga depan, banyak sekali orang, dan mereka sepertinya sudah menebak bahwa kami lah orang yang ditunggu-tunggu, dua perempuan kecil yang selalu membuat orang tercengang! Setelah bertanya banyak hal, bahwa pada intinya saya tidak bisa meninggalkan Nyai sendirian, kamar yang telah dipesan pun dibatalkan. Saya tidak bisa lupa ekspresi Nyai dengan mata terbelalak Ia tampak begitu ngeri membayangkan untuk menginap di kantor Balai TNB seorang diri, padahal sebelumnya mantap sekali gayanya, ya, persis seperti dugaan sebelumnya! Tidur di perpustakaan Balai TNB adalah di luar dugaan, bagi yang tidak terbiasa memang menakutkan, tetapi menurut saya cukup aman, bahkan saya merasa inilah backpacking yang sesungguhnya!
Sekitar satu jam berikutnya datanglah seseorang, ternyata pak Rahman, Kepala Bagian Tata Usaha Balai TNB. Ia baru saja pindah dari TN Karimunjawa, dan berasal dari Klaten, Jawa Tengah, dunia memang sempit, sesuatu yah…. Di depan beliau-dan pak Ngurah-terpaksa kami tidak bisa menyembunyikan identitas sebenarnya. Dan memang terasa aneh, cukup aneh mendengar/melihat seorang dokter berkeliaran di hutan, mungkin seperti itu pikiran mereka. Pak Rahman pun menawarkan kami untuk mengikuti kegiatan sensus mamalia di malam hari. Hal ini membuat saya berpikir ulang, karena rencana saya besok siang perjalanan saya lanjutkan ke Situbondo.
TNB merupakan perwakilan ekosistem hutan yang spesifik kering di Pulau Jawa, terdiri dari tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Tujuan saya awalnya adalah wisata bahari yang menurut situs resminya bisa dilakukan di Bama, Balanan, Bilik, Popongan, Sejile, Sirontoh, dan Kalitopo. Kita bisa memancing, diving/snorkeling, dan melihat perkelahian antara rusa jantan atau melihat sekawanan kera abu-abu yang memancing kepiting/rajungan dengan ekornya pada saat air laut surut (sayangnya hanya terjadi pada bulan Juli/Agustus). Baluran sendiri dinyatakan sebagai Taman Nasional oleh Menteri Pertanian, tahun 1980 . Ditetapkan terletak di Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Penjelasan yang lengkap, sudah mirip karya tulis ilmiah kah?
Jackpot! Kata-kata yang tepat untuk menggambarkan parjalanan kali ini di Baluran, sehari dua malam dengan kegiatan di luar dugaan. Setelah berpisah dengan Nyai, saya diantar pak Woto ke Bama dengan motor. Melalui medan yang “off road banget!”, kami membicarakan banyak hal, terutama mengenai akasia yang sekarang menjadi hama. Awalnya akasia-akasia itu pada tahun 1960an ditanam untuk mengantisipasi kebakaran savana, namun karena biji akasia cukup lezat bagi para binatang akhirnya tersebarlah biji-biji tersebut melalui tinja binatang dan akhirnya pertumbuhan akasia tak terkendali. Akasia bersifat parasit karena mematikan akar tumbuhan di sekitarnya. Dan pada saat melalui savana, tampak para pekerja kontrak sedang mematikan akasia dengan menebangi dan membakar akarnya. Pak Woto sendiri merupakan penduduk setempat, dan tidak sedikit tetangganya yang bekerja di Balai TNB ini sejak awal berdirinya, jadi mereka paham betul seluk beluk TNB. Dan di wilayah tertentu penduduk setempat diijinkan ikut memanfaatkan hasil hutan, bahkan bekerja sama dengan perusahaan swasta tertentu.
Sesampainya di Bekol, saya diantar menuju tower di belakang kantor, di sana kami bisa melihat ke segala arah, setelah berfoto-foto sebentar, saya pun mampir ke kantor dan berkenalan dengan pak Teddy dan pak Tri. Pak Teddy adalah ketua koordinasi sensus mamalia atau yang biasa disebut nyanggong, beliau mengajak saya untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut, karena tidak setiap tahun diadakan. Entah godaan atau rayuan, saya benar-benar tergiur! Lama sekali saya ingin melihat banteng, sang Maskot TNB, harapan besar untuk mewujudkannya! Dan akhirnya saya putuskan untuk ikut serta dalam kegiatan nyanggong.
Karena tujuan utama saya adalah snorkeling, saya pun ditawari pak Tri yang juga akan menuju ke pantai Bama. Dengan menumpang mobilnya, saya pun mendapat banyak informasi tentang TNB. Saat melewati savana, tampak kerumunan-kerumunan rusa yang sedang merumput, dari penjelasan pak Tri saat itu merupakan musim kawin rusa, rusa jantan akan sibuk bersolek dengan melumuri tubuhnya dengan lumpur untuk menarik perhatian si Betina, dan tanduknya yang indah itu akan terlepas setiap dua tahun sekali. Saking serunya tidak terasa sampailah kami di Pantai Bama.
Sebelum snorkeling, saya diajak melihat lokasi nyanggong, di pos tersebut bersama mas Swiss Winasis-nama yang tidak asing yang ternyata sering tercetak di majalah traveling favorit saya-pak Tri akan melakukan pengamatan mamalia. Agak jauh memasuki kawasan hutan pantai, kami sempat memasuki kawasan hutan mangrove, wow! Benar-benar seperti impian saya! Sambil mengecek kawasan mangrove, pak Tri banyak menjelaskan seluk beluk kawasan tersebut. Perjalanan pun dilanjutkan, sesampainya di pos, saya agak tercengang, tiba-tiba merasa tidak yakin bahwa saya bisa ikut nyanggong. Bayangkan saja, pos kami terletak di pohon yang cukup tinggi, hanya dialasi papan dan dedaunan, tepat di atas mata air dan di tepi pantai. Bagaimana saya naik? Nyamuk dan angin laut pasti membuat saya tidak nyaman, manja sekali, hanya saja…, ya, bisa dibayangkan bukan?
Setelah membereskan pos, pak Tri mulai menjelaskan tentang ciri-ciri jejak rusa, babi hutan dan lain-lain sambil kami kembali ke Bama. Di TNB populasi babi hutan menurun akibat perburuan predator dan manusia? Hei, manusia? Ya, begitulah, terkadang masih saja kecolongan ulah-ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.
Di Bama saya diperkenalkan dengan mas Ferdy, setelah akhirnya berhasil merayunya, kami pun snorkeling. Ditemani mas Ferdy, saya banyak mendapatkan informasi, namun sayang, ombak saat itu sangat kencang, kami pun terpaksa berenang dengan arah menyerong agar tidak terlalu lelah melawan arus, dan tidak sampai setengah jam snorkeling berakhir, sayang sekali…. Tetapi kami sempat melihat seekor ikan pari dari kejauhan, bonus yang kesekian kalinya bagi saya. Setelah beristirahat sejenak, saya diijinkan oleh pak Tri dan mas Ferdy beristirahat di Pos Bama, sebuah kantor untuk para staf di pantai Bama, menumpang mandi, makan dan tidur siang di sana benar-benar menjadi “my perfect backpacking“. Senang sekali rasanya, bonus berulang kali!
Sore harinya, saya agak ragu untuk mengikuti nyanggong, melihat staf yang begitu banyak dan sang Kepala Balai TNB, pak Indra, saya tiba-tiba merasa sungkan, seperti penyusup-berlebihan-, tetapi atas bantuan mas Ferdy, saya diijinkan pak Indra ikut kegiatan nyanggong, bahkan saya diajak ikut serta dalam mobilnya-nyengir kuda dalam hati saya, bahagia dunia akherat rasanya!-. Di depan pak Indra saya pun mengakui profesi saya setelah beberapa pertanyaan ditujukan pada saya, karena memang agak aneh, perempuan kecil, sendirian pergi ke tengah hutan dari tempat yang terbilang jauh-ada masalah? Haha….-. Dari saran pak Indra, berhubung saya masih awam, saya disarankan nyanggong di pos permanen, di salah satu tower di belakang kantor Bekol. Di sana saya akan bertemu mbak Amel dan mbak Siti. Ternyata semua staf peserta nyanggong telah berkumpul di kantor Bama, di sana saya seperti penyusup, tanpa malu-malu dengan modal SKSD seakan saya sudah kenal baik dengan mereka, ya sudahlah, daripada mati gaya di sana.
Horeee! Nyanggong pun dimulai! Satu-dua jam menunggu, akhirnya sekelompok rusa datang untuk minum, makan dan beristirahat, tidak lama kemudian sekelompok kerbau hutan datang. Dua jenis mamalia tersebut yang muncul saat pengamatan kami, menakjubkan! Mengamati gerak-gerik dan kebiasaan satwa liar dengan mata telanjang, sungguh “jackpot”! Saat nyanggong kami tidak boleh mencolok dalam hal suara, cahaya, bahkan apa yang kita kenakan pun harus berwarna gelap, karena satwa-satwa tersebut sangat sensitif, sehingga apabila mereka terkejut, proses sensus otomatis akan terganggu. Nyanggong dilakukan semalaman, sayangnya selama semalam saya ikut tak satupun banteng datang, belum beruntung sepertinya.
Yang mengesankan adalah sepanjang malam saya dapat mendengarkan suara-suara dari beberapa satwa, yang paling saya ingat adalah suara burung merak yang terdengar merintih dan burung hantu yang misterius, sedikit menyeramkan tetapi sangat mengesankan. Saat itu musim kawin merak hampir usai, pagi-pagi sekali atau menjelang gelap biasanya merak-merak akan keluar dari sarangnya di sekitar mata air atau pepohonan, namun karena mengejar waktu, saya tidak sempat menyaksikannya. Usai nyanggong malam pertama, setelah saya membersihkan diri dan berpamitan, saya pun melanjutkan perjalanan ke Situbondo.
Perjalanan kali ini terbilang istimewa, dengan persiapan yang terlalu matang, semua tiba-tiba berubah total, belum lagi kami terpaksa tidak bisa menikmati perjalanan kami dengan seorang teman yang begitu mengagumkan semangatnya karena ia harus menghadap-Nya. Dalam perjalanan pun banyak menemui hal-hal di luar dugaan kami, sangat berwarna! Dan seperti biasa, saya dan Nyai tidak bisa melewatkan masa-masa romantis kami-baca: bertengkar dan dongkol, haha….-. Yang terbaik adalah dalam setiap perjalanan, setelah bertemu begitu banyak orang, persahabatan tetap terjaga dengan baik, bahkan kami masih tetap berkomunikasi atau kadang kala bertemu teman-teman baru kami. Semoga setiap pertemanan baru yang saya jalin dalam setiap perjalanan dapat terjaga selamanya tanpa adanya maksud-maksud tertentu, karena perjalanan yang saya lakukan adalah pencarian kepuasan bathin dan kebahagiaan, amin.