Kasodo untuk Bromo

Backpackin December 9, 2010 0

(Muhammad Iqbal, Foto : Dandy Priangga) Bagi para pencuri foto dan para pecinta Budaya yang fanatik, sepertinya Kasodo sudah tidak asing lagi. Upac­ara ini sudah menjadi agenda tahunan yang mahsyur dikenal, bahkan sampai luar Indonesia. Indikasinya mudah, banyak wisatawan mancanegara yang selalu tampak dalam upacara. Mayoritas dari mereka berasal dari Perancis dan Amerika.

Indonesia selalu seru dengan legenda-legendanya. Biasanya, pengaruh agama adalah doron­gan yang paling kuat dalam peny­usunannya. Tidak jarang, dalam satu kejadian banyak cabang cerita yang terpapar, termasuk Kasodo. Makna kata Kasodo sendiri dari kata kasada, artinya sepuluh, menyirat makna bulan kesepuluh pada kalender Teng­ger, waktu dilangsungkannya upacara Kasodo.

Kalender Tengger bukan semba­rang kalender. Bukan berdasar­kan rotasi bulan seperti kalender di Arab. Tidak sepaham juga dengan kalender matahari seperti yang umum dipakai penduduk dunia. Penduduk Tengger punya anutan sendiri dalam menentu­kan penanggalan.

Setiap empat tahun sekali, pen­duduk Tengger berkumpul untuk menentukan penanggalan yang berlaku untuk empat tahun beri­kutnya. Acara tersebut disebut Unan-Unan. Salah satu syarat penanggalan adalah jumlah hari dalam empat tahun yang ditentu­kan tersebut tidak boleh ganjil.

Asal-muasal upacara Kasodo sendiri berawal dari seorang pemuda bernama Jaka Seger yang meminang pemudi cantik, Rara Anteng (Tengger adalah gabungan nama keduanya). Rara Anteng adalah anak dari raja Brawijaya yang kala itu sedang berkuasa, sekitar abad ke-14. Mereka menikah dan hidup bahagia sampai suatu saat jenuh karena tidak kunjung diberikan buah hati. Maka pergilah mereka ke gunung Bromo untuk berdoa pada dewa agar mereka diberi­kan anak.

Terkabul, mereka diberikan anak, lagi, dan lagi, sampai jumlahnya 25 orang. Namun, mereka sebe­lumnya terlanjur berjanji untuk mengorbankan anak terakhirnya. Setelah yakin bahwa anak itu adalah anak terakhir mereka maka untuk menepati janjinya, mereka betul-betul mengorbank­an anak bungsunya di kawah Bromo.

Belum berakhir. Setelah itu, terdengar suara seorang anak dari kawah Bromo. Suara itu meminta dirutinkannya persem­bahan setiap hari ke-14 di bulan Kasodo. Persembahan tahunan itulah yang kemudian banyak disebut-sebut upacara Kasodo. Dua puluh empat anak Rara Anteng dan Joko Seger tersebut yang kemudian menjadi nenek moyang penduduk Tengger yang sekarang.

Versi lain menyebutkan, zaman dulu di Jawa, Hindu menjadi agama utama bagi penduduknya. Setelah Islam masuk dan menda­patkan apresiasi yang cukup be­sar dari penduduk, maka sedikit demi sedikit penganut Hindu pindah ke lereng-lereng gunung, termasuk ke daerah Tengger. Mereka yang pindah ke Teng­ger ini yang dinobatkan sebagai nenek moyang Tengger. Versi pertama lebih popular dibicarakan banyak orang. Leg­enda memang lebih indah untuk dinikmati bukan diperdebatkan.

Luhur Poten

Pura indah yang berada tepat di bawah kaki Bromo itu punya nama Luhur Poten. Bangunan ini dikelilingi pagar asal batu men­egaskan kewibawaan sekaligus kesombongannya. Pohon-pohon di sekeliling Pura yang sangat terawat sepertinya melambai-lambai mengajak kembali ke zaman kerajaan Mataram.

Sedikit banyak, Kasodo punya hubungan dengan Luhur Poten. Paling tidak,keduanya sama-sa­ma dari garis Hindu. Kasodo lahir jauh lebih awal daripada Luhur Poten yang baru dibangun pada tahun 1983.

Sebelum Poten tegak, upacara Kasodo tidak menggunakan acara mampir dahulu ke Poten. Sejak adanya Poten sampai sekarang, terkesan Poten men­jadi salah satu mata rantai upac­ara yang tidak boleh ditinggalkan. Padahal tidak demikian. Maka wajar sekali kalau akhir-akhir ini masyarakat Tengger tidak mampir dulu ke Poten, mereka langsung menuju kawah, melem­parkan hasil buminya.

Ada sedikit gap di dalam intern masyarakat Tengger. Hindu Teng­ger dengan Hindu Bali punya buda­ya yang berbeda. Penetrasi Hindu Bali semakin kuat di Tengger seh­ingga budaya mampir ke Poten ter­lebih dahulu semakin ditinggalkan.

Mata rantai pertama dalam rang­kaian kegiatan Kasodo adalah pengambilan air dari tiga titik. Ada upacara sendiri untuk kegiatan ini, namanya Mendak Tirta. Tiga sum­ber air yang dilibatkan yaitu air Gunung Widodaren di lautan pasir, air terjun Madakirapura di Keca­matan Lumbung Probolinggo, dan Watu Plosot di Gunung Semeru.

Ada yang mengatakan, member­sihkan Pura Poten juga meru­pakan rantai wajib dalam upac­ara Kasodo. Biasanya dilakukan satu minggu sebelum acara puncak. Tapi sepertinya acara bersih-bersih tersebut hanyalah tambahan semata, mengingat Poten baru tegak sejak 1983 se­dangkan upacara Kasodo sudah mengisi absen jauh sebelum itu.

Satu hari sebelum acara puncak, dukun-dukun dari setiap desa ber­gumul. Bukan dukun yang mistis seperti dalam film Suzana. Bu­kan pula dukun anak atau dukun yang menyembuhkan penyakit. Dukun yang dimaksud lebih mir­ip sebagai pemuka agama. Ada kitab yang harus dihapalnya agar bisa dinobatkan menjadi dukun.

Dukun-dukun yang hadir ada­lah dukun yang akan dinobatkan menggantikan dukun desanya yang sebelumnya. Setiap desa pu­nya dukun masing-masing. Acara ini menjadi semacam regenerasi bagi dukun-dukun itu. Desa yang pada tahun tersebut tidak perlu mengganti dukunnya maka tidak perlu jua hadir dalam pergumulan dukun-dukun ini. Dukun baru yang terlibat akan dinobatkan meng­gantikan dukun lama di desanya.

Pada malam sebelum acara pelemparan hasil bumi yang di­nobatkan sebagai acara pun­cak, Poten dan sekitarnya sudah riuh. Penduduk membaca-baca mantra, sembahyang, dan men­gumpulkan hasil bumi yang hen­dak dipersembahkan di penghu­jung malam. Kegiatan ini bisa juga dimasukkan dalam ran­tai kegiatan upacara Kasodo.

Dari Bumi Menuju Bumi

Pelemparan hasil bumi yang di­lakukan ketika Subuh itu bukanlah satu-satunya pelemparan. Setelah itu, ada saja yang melemparkan hasil buminya. Jumlahnya lebih sedikit daripada pelemparan yang pertama kali. Masyarakat Tengger merasa punya kewajiban pribadi yang tidak bisa diwakilkan un­tuk melemparkan hasil buminya.

Hasil bumi yang terlibat bukan hanya sayur-sayuran dan buah-buahan, tapi juga ayam dan kambing. Kadang terlihat kamb­ing yang masih hidup mencoba mendaki kembali setelah dikor­bankan. Banyak terlihat orang yang berebut hasil bumi terse­but setelah dilemparkan. Mereka adalah penduduk di luar Teng­ger. Tidak ada pencegahan yang dilakukan oleh penduduk asli Tengger. Penduduk luar Tengger memang diperbolehkan untuk memungut hasil bumi yang telah dikorbankan di kawah Bromo.

Mereka beradu cepat mendap­atkannya. Kadang terlihat men­egangkan ketika mereka men­jatuhkan diri ke bibir kawah. Ceroboh sedikit bisa patah-patah tulangnya. Tapi sepertinya mer­eka sudah terbiasa melakukan itu.

Bagi masyarakat Tengger sendiri, ada harapan yang muncul dari Kasodo. Mereka berharap per­lindungan, kesehatan, dan panen yang berlimpah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Motif yang sama dengan upacara-upacara daerah yang juga melibatkan hasil bumi.

Apriadi Kurniawan yang sudah melakukan riset fotografi Kasodo selama dua tahun belakangan memberikan beberapa saran jika hendak mengabadikan Kasodo. Pertama, Kasodo ini bukan ritual yang hanya melempar hasil bumi ke kawah Bromo saja, tapi seki­tar empat hari sebelumnya ritual sudah dimulai dengan pengam­bilan air dan sebagainya. Ti­tik puncak kegiatannya memang pelemparan hasil bumi, tapi kalau mau mencuri foto penuh ritual ini, maka datanglah sejak sekitar em­pat hari sebelum acara puncak.

Kedua, butuh persiapan fisik yang cukup karena acara pun­caknya nonstop dari malam sampai subuh. Perjalanan dari penginapan (Cemoro Lawang) ke kawah Bromo pun tidak mudah.

Kearifan lokal punya makna yang dalam sekali, saking dalamnya terkadang tidak tampak. Khasa­nah budaya tersebut selalu punya nilai penting untuk dilestarikan.

Dapat di baca di Majalah Backpackin’ Magazine Edisi I

Leave A Response »

[+] kaskus emoticons nartzco