(Sri Anindiaty Nursastri)
namanya Matarmaja.
luarnya berkisar antara besi dan baja. dilapisi warna biru dan oranye yang menyala.
Matarmaja adalah pelintas pulau Jawa. Namanya adalah akronim dari Malang, Blitar, Madiun, dan Jakarta.
status ekonominya sangat terasa. tempat duduk berjejer tiga-dua.
tak melulu ada nomor kursi di tiketnya. yang tak kebagian tempat duduk dihadapi tiga pilihan : mengampar di lantai, berdiri di dekat pintu agar masuk angin, atau merangsek duduk berempat di tempat duduk (yang harusnya) bertiga.
gelagat premanisme jelas adanya. premanisme yang mengatasnamakan kebersihan.
mereka tahu saja kenyataan bahwa yang takut yang menunduk. maka dicoleklah yang menunduk itu. yang dicolek-colek makin menunduk. yang mencolek makin girang.
yang mengamen mulai dari satu orang, dua orang, hingga satu grup kumplit dengan gitar-harmonika-alat tabuh, dan kecrekan.
mulai dari laki-laki, wanita, hingga banci berkebaya.
mulai dari meminta, memaksa, hingga (kembali) mencolek-colek.
Matarmaja adalah pengalah. jangan kira mesinnya rusak atau mati di tengah jalan.
itu adalah sikap budi luhur sang Matarmaja : mengalah dengan sebangsanya yang yang memiliki derajat lebih tinggi. bisnis dan eksekutif.
layaknya bawahan menunduk pada atasan. layaknya pembantu pada majikan.
Matarmaja adalah tempat di mana kepala penumpangnya terantuk-antuk ke depan karena kursi yang tak nyaman untuk tidur bersandar. Ketika bangun, Matarmaja adalah tempat di mana penumpangnya kepanasan dan mencari kipas, lalu merangsek tidur kembali dengan posisi berbeda.
Matarmaja adalah surga para penjaja. mulai dari makanan, buku, boneka, mainan, kipas, VCD bajakan, sampai alat pijat. penjaja pop mie dan kopi adalah penguasa. berbekal air termos dan gelas plastik, mereka siaga merobek bungkus kopi dan membuang bekasnya di lantai kereta.
Matarmaja adalah lawan dari kesehatan, di mana penumpangnya suka cita menahan haus agar tak perlu kencing di WC yang baunya tak terkalahkan.
di mana penumpangnya mencerna makanan yang entah bersih atau tidak,
di mana asap rokok bertebaran layaknya kabut di langit-langit kereta.
Matarmaja adalah penguji kesabaran, di mana para penumpangnya berusaha tidak menggubris segala kebisingan dan kebauan di dalamnya. bertahan selama 18 jam.
tempat di mana sebum bertumpuk di muka para penumpangnya, serasi dengan keringat yang membasahi badan.
Matarmaja adalah rintangan, di mana penumpangnya menghela nafas panjang ketika menginjakkan kaki di tempat tujuan. merasa puas.




Matramaja….
tiket yang murah, 51000 rupiah saja
harus dibayar dengan ketidak nyamanan selama -+ 18 jam….
yang kopi, popmie kopi jahe hangat
hahhahha
4 jempol buat sastri……keren bgt artikel nya…
sekali-sekali bolehdong nyobain gaya traveller…
pasti ketagihan
dari sastri.
@kobo : hehe. nanti ya kalo punya banyak uang pasti nyobain travelling ;P
hahahahaha…..keren2……next time gw pgen ikutan boleh tak??? pgen rasain jdi real backpackers…..coz selama ini gw ke lapangan cuma buat kulap (kuliah lapangan) doank……boleh lah klo jalan2 gni….bisa menambah rasa nasionalis coy hahaha……
itu lah seninya naek ekonomi kita dapat melihat bagaimana kehidupan masyarakat kelas menengah kebawah. jadi inget waktu ke jogja naek progo sampe harus naek di lokomotif karena sakinng penuhnya. tapi tetep asik kok. salam backpacker
betul hafid, bukan cuma liat kehidupan ekonomi bawah, tapi juga pengalaman mandi di stasiun, gara2 keringet yang audubile.hehehehehe
wah….matarmaja…manteb neh kereta….kudu siap mental dah..haaaa….4 x nek ne kereta…4 x juga berantem sm pengamen….haaaa…FYI hati2 klo nek kreta ne…bekasi,cirebon,n semarang….ckckckck…copet ny buanyaaaaaaaaakkkk.hhhaaaaa,,,,,
tp ttp gk prnah bikin kapok nek kereta ini….
klo kapok bkn backpackers namanya…heeee….
dana minim dengan kepuasan maksimal!!!
lutut kram abis nyampe malang!!hoho