Menilik Kemegahan Prambanan

(Ma’mur Sudrajat) Dari Bandara Adi Sucipto, langkahkan saja kaki menuju ke Halte Trans Jogja. Kemudian naik Bus Trans Jogja Jalur 1B, lalu turun di Halte Terminal Prambanan. Dari situ bisa naik becak atau ojek bahkan jalan kaki pun bisa (cukup melelahkan bila berjalan kaki) menuju ke Candi Prambanan.

Membayar tiket masuk seharga Rp. 30.000,- atau jika ingin diteruskan ke Candi Boko dan akan diantar-jemput (shuttle) oleh kendaraan maka bisa menggunakan Paket Prambanan-Boko seharga Rp. 40.000,-. Aku hanya memilih opsi pertama saja.

Rasa takjub ketika melihat kemegahan candi Hindu ini. Tampak gagah dan anggun berdiri. Candi Prambanan atau disebut juga Candi Loro Jongrang, terletak persis di perbatasan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Propinsi Jawa Tengah.

Sepanjang pengamatanku, banyak pengunjung yang membawa kamera, baik kamera DSLR, kamera pocket, kamera handphone, maupun kamera komputer tablet. Mulai dari gaya narsis dengan latar belakang candi hingga mengabadikan kemegahan candi tersebut.

Pas pertama kali di depan Candi Prambanan aku sudah ditodong memotret oleh turis mancanegara. Kelihatannya turis ini berasal dari Kawasan Asia Timur, itu terlihat dari wajahnya yang oriental. Sewaktu di dalam Plataran Prambanan pun aku beberapa kali diminta untuk memotret. Ada pemudi yang ingin narsis dengan latar belakang candi, dengan kamera handphone-nya, juga ada pasangan sejoli, yang ingin bersanding serasi dengan latar candi.

Selain kamera, banyak juga pengunjung yang memakai payung. Memang cuaca yang cerah dan pelataran di area candi yang tak memiliki pepohonan untuk berteduh membuat badan ini kepanasan diterpa teriknya sinar matahari.

Selain menikmati kemegahan Candi Prambanan, di kawasan candi tersebut masih banyak candi lainnya, seperti Candi Lumbung, Candi Bubrah, Candi Boko, dan yang lainnya. Namun candi yang aku kunjungi berikutnya adalah Candi Lumbung yang posisinya tak jauh arah utara Candi Prambanan. Candi Lumbung ini kecil, namun beberapa terlihat ada kayu yang malang meintang seperti sedang dalam proses pemugaran.

Selain candi aku juga masuk ke Prambanan Museum. Museum ini didesain dengan rumah adat Joglo, dengan pelataran yang asri dan luas. Didalamnya ada para sinden dan penabuh gamelan, namun siang itu sedang beristirahat. Juga terlihat kursus singkat membatik diatas kain putih, lengkap dengan malam (wax) dan cantingnya. Di plataran museum banyak patung dewa-dewi maupun hewan-hewan mitos. Masuk ke ruang museum lainnya akan disuguhkan dengan barang-barang mewah atau perhiasan jaman kerajaan dulu. Mulai dari bokor kecil, guci, hingga gelang emas.

Di sisi ruang lainya akan disuguhkan gambar seperti pemindayan Candi Prambanan, juga terpampang lukisan penemu candi tersebut. Juga ada foto-foto proses penemuan dan pemugaran candi.

Di kawasan Prambanan juga ada rusa. Persis seperti rusa di Istana Bogor. Para pengunjung pun bisa memberi makan berupa kangkung kepada rusa dengan membeli pakan tersebut pada seorang penjual, seharga Rp. 1.000,- per ikat. Selain itu yang ingin jalan-jalan dengan sensasi lain juga bisa menunggang kuda, dan akan berkeliling dihalaman Prambanan.

Ternyata mengelilingi di Kawasan Prambanan juga membuat kaki pegal-peagal. Plus cuaca yang cerah dengan terik matahari menambah lelah badan ini. Tapi itu semua terbayar sudah oleh kemegahan Candi Prambanan.


Cari juga artikel lain tentang :

, ,

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons nartzco


Recent Comments

  • Backpackin: jadi kangen sama jogja ^^
  • Jojo: iyaa udah di baca gan.. itu lokasi rumah cak nu, patokan berhenti ny di mana di tumpang ny .. maaf gan byk...
  • Backpackin: kalau nebeng truknya aja Rp 25 ribu/orang, buat sewa jeepnya silahkan kontak cak nu, baca di edisi bromo:)
  • Jojo: gan, kira” nyewa jeep cak nu sampe jemplangan brp yaa ??
  • Backpackin: edisi bromo ada nomor kontak cak nu gan… donlot aja e magz nya